By: Kholisuddin
Politik adalah sebuah terem yang tidak asing lagi di telinga kita. Politik merupakan sebuah instrumen ketetanegaraan. Dalam mewujudkan pemerintahan pasti akan berkaitan langsung dengan istiah politik tersebut. Bagi orang awam yang tidak paham akan hakikatnya politik pasti tercipta mindset yang tidak jelas akan makna politik tersebut. memang seperti itulah, perkembangan makna politik pun kian kabur dan semakin tidak jelas arahnya dan seperti apa politik sesungguhnya yang harus tercipta dalam sebuah kepemerintahan. Semuanya tidak pasti akan makna yang sebenernya mengenai politik tersebut. Tetapi, dengan seringnya kita mengamati atau bahkan kita ikut terlibat di dalamnya baik itu sebagi peserta atau pun hanya sebagai pelaku yang hanya diarahkan oleh pemegang kekuasaan, pemahaman akan politik itu pun memunculkan bias yang berbeda dalam benak masng-masing orang. Mungkin ada sebagian orang mengatakan bahwa, politik adalah sebuah upaya untuk melanggengkan kekuasaan atau sebuah cara untuk menggapai kekuasaan tersebut. Apa pun pengertian politik–terlepas dari ilmu politik–tetap membawa pada kekecewaan yang tidak merata bagi mereka yang kalah dalam pertarungan politik tersebut. Sehingga, pada perkembangan selanjutnya politik ini pun mulai kehilangan kepercayaan dari kita (rakyat). Dikarenakan para pelaku politik sering menggunakan cara apa pun untuk menggapai tujuannya, khususnya dalam mencapai atau pun melanggengkan kekuasaan. Dalam Islam pun tidak terlepas dari namanya politik. Ketika Rasulullah wafat dan para sahabat pada saat itu terbelah menjadi dua kubu yang mana pada awalnya akan mencalonkan seorang sahabat selain Abu Bakar untuk menjadi khalifah. Namun, kubu yang lain yang dipimpin oleh Umar bin Khattab mencalonkan Abu Bakar sebagi khalifah pertama. Hal tersebut didasarkan pada isyarat Rasulullah menjelang wafat dengan menunjuk Abu Bakar Asshidiq sebagai imam sahalat pada saat beliau sakit. Perkembangan selanjutnya, politik dalam Islam pun tidak sepenuhnya berjalan mulus alias bersih dari kecurangan-kecurangan. Tercatat tiga khalifah setelah Abu Bakar semuanya mati terbunuh. Hal ini menunjukkan perkembangan politik dari masa ke masa menjadi momok yang akan mengancam bagi siapa saja yang sedang berkuasa. Akibat dari itu semua, dalam percaturan politik pun mempunyai gaya yang berbeda antar satu orang dengan yang lainnya. Bahkan dalam istilah yang ekstrem setiap orang yang akan terjun pada dunia politik harus mempunyai “tentara”. Hal ini sebenarnya sudah terajadi dalam percaturan politik masa lalu. Bagaimana dinasti fatimiyyah mempunyai tentara pemberani yang disbut dengan assassin. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa politik memerlukan kematangan dan kemamapun strategi, biaya dan kepiawaian dalam berbagai hal. Apabila kita menilik lebih dalam lagi terhadap politik di Indonesia. Maka, kita akan menemukan perkembangan politik yang jauh lebih berkembang dari masa ke masa, khususnya setelah tumbangnya rezim orde baru. Dimana, pada saat ini kebebasan tidak dikebiri lagi oleh sebuah rezim. Sehingga menimbulkan kebebasan politik yang signifikan. Kebebasan ini pun merambah kepada agama yang sering dijadikan sebuah senjata dalam upaya politik tersebut. Agama bukan menjadi pijakan dalan berpolitik, melainkan agama menjadi sebuah alat dalam menggapai kekuasaan. Dalam percaturan politik di Indonesia, kini banyak dari kalangan politisi yang ikut menggandeng tokoh-tokoh agama (kiyai) yang mempunyai pengaruh besar pada umat. Sehingga secara tataran praktis cara tersebut mampu menggaet suara umat atau pun rakyat tergantung pegaruhnya tokoh tersebut yang dijadikan partner dalam percaturan politik. Sehingga, pada akhirnya kharisma atau pun wibawa tokoh tersebut mempengaruhi suara rakyat. Kita bisa menyaksikan fenomena tersebut ketika pemiliha umum presiden, waikota, bahkan pemilihan bupati pun khususnya di Jatim yang memang istilah kiyai pun banyak ditemukan. Sehingga tidak jarang parpol atau pun calon menggandeng para kiyai dijadikan sebagai ikon dalam percaturan tersebut. Upaya yang mereka lakukan pun terus merambah kepada para pimpinan pesantren. Hal ini pun menjadikan sebuah cara atau pun “senjata” yang praktis dan ampuh dalam dunia politk. Kita bisa menyaksikan dalam poster-poster atau pun iklan mengenai seorang calon yang digandengkan dengan seorang kiyai sebagai calon pimpinan sebuah pesantren. Hal ini menajadikan para kiyai secara tidak langsung ikut berkecimpung dalam dunia politik. Meskipun hal ini sudah lama terjadi, bahkan kiyai bukan hanya sebagai partner tetapi ada juga yang ikut mencalonkan diri. Kharisma kiya di mata umat cukup menjadikan senjata yang ampuh dalam perekrutan suara dalam pemilihan tersebut. Memang banyak perdebatan tatkala kiyai atau pun tokoh agama yang ikut berkecimpung dalam perpolitikan. Pada akhirnya muncul stigma bahwa, mereka (kiyai) seakan-akan mengandalkan kharisma atau pun wibawa dalam pengumpulan dukungan. Dikhawatirkan ilmu tentang perpolitikan ini pun tidak dikuasai oleh mereka dengan sepenuhnya. Sehingga berkecimpungnya para kiyai ini hanya dijadikan sebuah top figure yang menjadi ikon saja. Politik prakitis pun muncul ketika para tokoh atau pun kiyai ikut dalam dunia perpolitikan. Walau pun sampai saat ini istilah politik praktis pun tidak ditemukan makna yang bisa dipahami oleh kita. Begitu juga di Madura, pulau yang terkenal sebagai seribu pesantren ini pun sudah terkena bias politik prakis. Dimana, kita bisa menyaksikan para kiyai pimpinan pesantren yang ikut nimbrung dalam dunia politik. Yang menjadi kekhawatirkan umat adalah, ketika kiyai ikut dalam dunia politik praktis nanti lupa pada tugas pokoknya. Mereka lupa mengurusi pesantren, masyarakat bahkan umat. Ketika orientasi kekuasaan yang menjadi pijakan utama dalam politik, maka inilah akan menimbulkan permasalahan. Public figure dari seoang tokoh kiyai pun lama kelamaan akan luntur. Kharisma kiyai nantinya hanya bernilai dalam politik, tidak bernilai di mata umat. Ketika kiyai akan terjun pada dunia politik praktis hendaknya melakukan pemikiran yang matang akan kemaslahatan umat. Jika dengan begitu (politik) bisa mengayomi umat, kenapa tidak bisa kiyai jadi pemimpin dalam struktur kepemerintahan. Tapi ingat, politik sekarang sudah tercemar oleh orang-orang yang money oriented. Jangan sampai pulau yang terkenal dengan seribu pesantren ini terkontaminasi oleh hal-hal yang akan menjauhkan para tokohnya dari hati umat. Janganlah kharisma kiyai dijadikan ikon oleh orang yang hanya mengambil keuntungan sepihak. Wallahu’alam bishawab. *Santri Al-Amien prenduan dan mahasiswa IDIA Prenduan Asal Cimahi Jawa Barat
Oleh: Kholisuddin