Moh. Ghufron Cholid
“Ihsan kamu harus menikah dengan uswah!”
”Menikah!”
”Ya, kamu harus menikah dengan Uswah!”
”Kenapa harus dengan Uswah?”
”Kamu akan hidup bahagia!”
”Semudah itukah?”
”Ya!”
”Memang apa kelebihan Uswah?”
”Banyak!”
”Bukankah dia, hanya seorang perempuan desa!”
”Memang kenapa, kalau dia seorang perempuan desa?”
”Dia pasti punya pengetahuan yang terbelakang dan tidak bisa
diandalkan!”
”Kamu tidak boleh menilai seseorang, hanya dari asalnya saja!”
”Memang begitu kenyataannya, semua orang desa pasti sama! Tidak punya
malu, seperti Maryamah yang kamu tawarkan padaku dulu!”
###
Percakapan Ihsan dan Hasan terhenti. Hanya desir angin yang mereka
biarkan berdesir dan menyisir rambut serta kenangan masa lalu mereka.
”Uswah tidak seperti Maryamah! Uswah orangnya santun dan masih polos!”
”Bukankah pernyataan seperti itu, sudah pernah kamu lontarkan padaku!”
”Kalau Uswah, aku sudah melakukan pengamatan dengan sangat teliti, aku
harap kamu mengerti! Ini sebagai penebus kesalahanku di masa lalu
karena telah cerobah dalam memilihkan calon pendamping hidupmu!
”Tidak semudah itu Hasan! Hatiku masih sakit, terlebih bila mengingat
kenangan masa laluku bersama Maryamah yang suram itu!”
”Aku mengerti apa yang kamu rasakan Ihsan, menghilangkan perasaan
trauma masa lalu tidaklah mudah!”
”Lantas kenapa kamu masih memaksaku untuk menikah dengan Uswah?”
”Karena aku yakin, sudah tiba saatnya kamu bangkit dari trauma masa
lalumu yang suram! Sudah saatnya pula, kamu hidup di dunia nyata tanpa
harus berdiam diri dalam penyesalan yang hanya akan menyiksamu saja!”
”Baiklah, akan aku pekirkan dulu! Aku tidak mau, kenyataan pahit
menimpaku lagi!”
###
Perlahan bayangan Maryamah, terus menari dalam ingatan Ihsan. Perempuan
desa yang pernah mengecewakan perasaannya, seakan-akan tersenyum sinis
melihat keadaaan Ihsan.
Maryamah, aku sangat membencimu. Maryamah, aku sangat kecewa padamu,
sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkanmu. Maryamah, demi harta
kamu telah menggadaikan cintaku. Maryamah, demi harta kamu tega membuat
hidupku memenderita. Maryamah, tak kusangka hatimu bisa mendua. Kamu
bisa membagi cintamu, tak hanya denganku. Kamu membagi cintamu, dengan
lelaki yang lebih gagah dan lebih kaya dariku.
Maryamah, cintamu palsu. Janjimu palsu. Kamu hanya mencintai, hartaku
saja. Kamu tak pernah mencintaiku. Buktinya, setelah aku miskin, kamu
berpindah hati. Kamu hanya iblis, yang menjelma manusia. Ihsan tidak
henti-hentinya, meluapkan semua rasa kekecewaannya kepada Maryamah
sambil membanting foto Maryamah ke lantai.
Tiba-tiba pintu rumah Ihsan berbunyi.
”Siapa di luar?”
”Aku, Hasan!”
”Silahkan masuk!”
Hasan masuk dan langsung menuju Ihsan. Dari kejauhan, Hasan mengamati
prilaku Ihsan. Hasan sangat iba, pada Ihsan. Hasan merasa sangat
berdosa, karena telah mengenalkan Maryamah dan menikahkan Maryamah
dengan Ihsan.
”Ihsan, kamu tidak boleh terlalu sedih!” kata Hasan dengan lembutnya
dan sangat hati-hati.
Ihsan hanya terdiam, mendengarkan nasehat sahabatnya.
”Hasan, kamu harus mengerti perasaanku!”
”Aku mengerti, tapi kamu sudah keterlaluan!”
”Ini semua berkat ulahmu juga!” Ihsan naik pitam.
Hasan terdiam. Tanpa kata. Hasan menyadari kesalahannya.
”Aku minta maaf, oleh sebab itu aku datang kemari untuk menebus seluruh
kesalahanku di masa lalu!”
”Semudah itukah, kamu menghapus seluruh perih dalam hatiku?”
”Aku sadar, permintaan maafku tidak bisa menghapus perih dalam hatimu.
Namun, Insya Allah Uswah yang aku tawarkan untuk menjadi pendamping
hidupmu kali ini, bisa menghilangkan rasa kekecewaanmu kepada Maryamah.
Tak hanya itu, Uswah bisa memberikan kebahagiaan untukmu dengan
kesetiannya.”
”Sudahlah, jangan berlagak alim di depanku. Kata Insya Allah terlalu
indah dan terlalu suci untuk diucapkan. Kamu tidak pantas mengucapkan
kalimat mulia itu!”
Hasan diam, mencoba tabah terlebih setelah menyadari kesalahan yang
pernah diperbuat di masa lalu kepada Ihsan.
”Memang aku akui, ini terkesan begitu cepat. Namun aku mulai terbiasa
mengucapkan kalimat tersebut, setelah aku mengenal KH. Latif!”
”Memangnya, siapa KH. Latif itu?”
“Ayahnya Uswah, calon mertuamu!”
“Memang apa yang telah kamu katakan kepada KH. Latif!”
”Aku menceritakan kisah masa lalumu yang suram! Aku menceritakannya,
dengan penuh kesungguhan hati sembari mengharap keajaiban dari Allah.
Barangkali setelah itu, aku bisa menebus kesalahanku di masa lalu
kepadamu!”
”Bagaimana respon KH. Latif, ketika mendengar ceritamu?”
“Responnya baik dan menghadiahkan Uswah sebagai calon pendamping
hidupmu. Uswah pun, sudah menyetujui permintaan ayahnya!”
“Bagaimana dengan penampilan Uswah? Dia tidak kampungan kan! Dia tidak
bermata duitan bukan!” Lagi-lagi pernyataan kasar Ihsan terlontar,
setelah bayangan Maryamah hinggap dibenaknya.
”Insya Allah kamu akan bahagia hidup bersama Uswah!”
Ihsan diam, hanya angin dibiarkan menyisir rambutnya. Ihsan merenung.
“Yakinkan hatimu, Uswah itu perempuan terbaik yang telah dianugrahkan
Allah!”
”Bismillah, aku terima tawaranmu, semoga ini menjadi awal kebahagian
dalam hidupku dan aku akan berusaha untuk membuat Uswah bahagia, agar
dia tidak mengalami kenyataan pahit seperti yang telah aku alami!”
”Kalau begitu, mari kita membaca basmalah” Ajak Hasan sambil
menggandeng tangan Ihsan.
Akhirnya, Mereka pun berangkat menuju kediaman KH. Latif untuk menemui
KH. Latif dan membicarakan tentang pernikahan Ihsan dengan Uswah.
Al-Amien, 09 Januari 2010