Belajar di Pesantren, Mengapa Mesti Minder!

Ditulis pada 13 Mei 2010 - kategori Karya Mahasiswa - 0 Komentar - dibaca 91 kali

Oleh : Putra Lastika*

Beberapa bulan lalu ketika saya berkunjung ke rumah teman, saya mendengar sedikit selintingan yang rasanya kurang enak didengar oleh telinga saya sendiri. Saat itu ketika saya dan teman saya tadi lagi reuni bareng teman-teman lama. Kami saling memperkenalkan diri satu sama lain sehingga terjadi obrolan tentang keadaan daerah masing-masing dan tentang pendidikan masing-masing, pada awalnya saya sangat senang karena bisa kenal sama orang-orang yang belum saya kenal sebelumnya. Tapi saat dia ngobrol dengan teman saya tersebut ada satu kalimat yang membuat hati saya tidak deal dengan kalimat yang ia katakan waktu itu, kata-kata itu kurang lebih seperti ini “Boss, loe kok mau kuliah di pesantren, kenapa gak di luar aja, kan lebih terjamin, pendidikan pesantren itu gak sesuai dengan keadaan saat ini!” Mendengar kalimat itu saya langsung tersinggung, karena saat itu saya memang salah satu mahasiswa yang kuliah di pesantren. Saya bingung kenapa hingga saat ini orang-orang khususnya para remaja masih memandang pesantren sebelah mata, tidak yakin kalau lembaga pesantren itu adalah tempat yang sangat efektif untuk menuntut ilmu apapun asalkan berguna dan bermanfaat bagi agama, nusa, bangsa dan bagi orang lain dan cocok bagi semua kalangan. Sepertinya kita semua perlu mengetahui apa sih pesantren itu?, agar pemahaman kita tentang pesantren yang selama ini kita dengar tidak hanya sebatas mendengar dan melihat kalau pesantren itu hanya mendidik santri agar mampu mengaji. Selain itu, sebenarnya masih banyak potensi-potensi yang tersimpan dalam lembaga yang berjulukan pesantren ini.

Agar dapat memahami sedikit karakteristik pesantren, sepertinya kita perlu membuka sedikit sejarah berdirinya pesantren khusunya di negara kita, Indonesia. Istilah pondok pesantren lahir dan berevolusi di kalangan masyarakat dengan beragam makna dan arti sebagaimana yang di kutip oleh Susilo, “kata pesantren itu berasal dari kata dasar santri yang ditambahkan dengn imbuhan pe-an. Kata tersebut mengandung arti “tempat tinggal atau asrama”. Sedangkan kata santri itu sendiri memiliki bebarapa arti, salah satu pendapat mengatakan bahwa kata santri itu berasal dari bahasa Tuni yang berarti “orang-orang mengaji, guru mangaji dsb”. Dari pengertian dua istilah ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa pesantren itu adalah tempat orang-orang yang menuntut ilmu khususnya ilmu agama (Islam). Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang mengajarkan tentang pendidikan agama (Islam) kepada santri. Berdasarkan defenisi ini seolah-olah orang-orang yang belajar di pesantren itu hanya belajar pendidikan agama belaka, inilah yang kadang membuat orang-orang khususnya generasi muda kita menganggap bahwa pesantren itu hanya tahu tentang urusan akhirat saja, karena mereka menganggap kata Islam itu hanya sebatas ilmu yang berkaitan dengan Fiqh, Tafsir, Hadist dan lain- lain. Padahal arti dari Islam yang telah kita ketahui selama ini adalah selamat artinya di dalam pesantren tersebut mengajarkan ilmu yang membuat kita selamat dunia dan akhirat. Alasan seperti yang disebutkan di atas yang menjadi alasan bagi orang-orang yang belum mengerti arti pesantren mengatakan bahwa pesantren tidak sesuai dengan kemajuan zaman saat ini. Pemahaman seperti itu sangatlah menyimpang dari visi misi pesantren.

Pada hakikatnya, dalam Islam, tidak ada yang namanya dikotomi ilmu. Allah tidak pernah melarang kita untuk menuntut ilmu dunia dan akhirat bahkan Ia tidak pernah membedakan kedua ilmu ini, yang penting bagi kita selaku khalifah dituntut untuk selalu mencari ilmu dengan cara berfikir dan membaca sesuai dengan bunyi wahyu pertama yang diterima Nabi kita Muhammad SAW. “iqra’”, bacalah!. Kata “baca” dalam ayat ini bukan hanya membaca buku, kitab kuning, dan buku-buku lainnya, tetapi di sini kita dituntut untuk mengetahui semua ilmu yang ada di alam semesta ini dengan tafakkur dan tadabbur, tetapi perlu kita ketahui bagaimana cara kita mengimplementasikan ilmu tersebut. Dalam praktek ilmu inilah yang kadang membuat kita salah penafsiran dalam makna ilmu yang dimaksud, banyak orang yang memiliki ilmu tapi mereka tidak bisa menggunakan ilmunya di tempat yang sesuai, kasusu-kasus seperti ini yang sering merusak citra para ilmuwan kita dan mereka dianggap jelek di mata masyarakat. Inilah sebagian alasan mengapa santri selalu dianggap terbatas dalam belajar ilmu selain ilmu agama, sehingga dalam pandangan masyarakat awam, orang-orang yang belajar di pesantren harus sarungan, pecian tidak boleh berpolitik dan lain sebagainya. Pendapat-pendapat seperti inilah yang membuat santri pesantren tersebut seolah-olah tidak bisa bersaing di dunia luar. Padahal jika kita bandingkan antara sistem di sekolah-sekolah umum dengan sistem pesantren sangat jauh berbeda, misalnya, dalam masalah bimbingan. Di sekolah umum para siswa hanya mendapat bimbingan dan perhatian dari guru atau sekolah hanya pada waktu bebarapa jam, setelah mereka pulang dari sekolah tersebut tidak jarang dari mereka yang berkeliaran tanpa aturan-aturan hidup. Maka dari itu, kita tidak heran lagi melihat para siswa yang menjadi tersangka kasus kriminal yang terjadi di era globalisasi ini. Naudzubillahi min dzalik.
Sedangkan di pesantren, kita memiliki sistem 24 jam yang selalu mendapat perhatian dari kiai dan para guru-guru, selain itu, dalam sebuah pesantren pasti diajari bagaimana cara menagtur hidup, bagaimana cara mengatur nafsu, bagaimana cara berorganisasi, itu semua diajarkan kepada santri-santri yang belajar di pesantren sehingga untuk menghadapi tantangan hidup dari internal maupun eksternal bagi santri pesantern itu semua sudah terbiasa. Selain itu, yang paling urgent tentang eksistensi pesantren adalah masalah pendidikan. Pesantren dalam percaturan pendidikan dunia pasca 2000 menarik untuk dilihat sebagai perkembangan mutakhir, baik dari perspektif UNESCO di dalam pertemuannya di Paris pada Juli 2004 berbicara tentang perihal reformasi pendidikan di Indonesia dalam hubungan dengan lembaga-lembaga tradisional seperti pesantren. Perbincangan itu mengakui bahwa pesantren tidak hanya sebagai lembaga pedidikan, melainkan juga lembaga yang memiliki kepedulian sosial. Selanjutnya dalam urusan pembentukan akhlak dan kepribadian manusia, pesantren sangat berpengaruh untuk membentuk sikap yang dua ini. Dalam membentuk kepribadian para santrinya, para pengasuh pesantren selalu mengajarkan agar semua santrinya memiliki integritas kepribadian yang tinggi (shalih).

Semoga anggapan miring yang ditujukan kepada pesantren bisa hilang seiring dengan perkembangan dan prestasi yang diraih pesantren. Wa Allah a’lam bi al-shawab!

*Mahasiswa Semester IV
Asal Aceh

Bookmark artikel ini pada :

Tinggalkan pesan Anda

© 2009 :: IDIA Prenduan powered by WordPress :: university theme by anwardani