Arsip data pada kategori ‘Karya Dosen’

 

PENDIDIKAN PESANTREN, FORMAT PENDIDIKAN IDEAL PASCA SURAMADU

Jembatan Suramadu (JS) diperkirakan selesai mei 2009 (Radar Madura, 1 Desember 2008). Sehingga, seluruh komponen masyarakat Madura “mau-tidak mau” harus bersiap diri untuk memasuki babak baru Madura. Kini, banyak ahli dan para pakar duduk bersama untuk membicarakan perencanaan pembangunan Madura dengan dimediasi oleh Universitas Trunojoyo (UNIJOYO), mereka terus melakukan langkah demi kesiapan Madura secara fisik maupun non-fisik. Salah satu langkah penting yang dilakukan adalah Rapat Koordinasi empat kabupaten di Madura dengan mengundang seluruh penguasa masing-masing daerah (baca: Bupati). Para pakar tersebut ingin mendengar rencana dan strategi para bupati dalam mempersiapakan daerahnya masing-masing, sehingga beberapa rekomendasi yang dihasilkan mereka nantinya sinergis dengan keinginan daerah. Tapi, sayang, usaha tersebut tak kunjung membuahkan hasil. Masing-masing daerah rupanya mempunyai ego sentries yang tinggi, hingga untuk sekadar duduk bersama saja pun tidak bisa hadir. Ironis. pendidikan-pesantren-adalah-format-pendidikan2

Oleh : Hermanto Kholil, S.Pd.I.

Ditulis pada 6 Juli 2010 - kategori Berita, Karya Alumni, Karya Dosen, Karya Ilmiah - dengan 0 komentar - dibaca 43 kali

 

Menyoal Netralitas Sain….

Pendahuluan

Perkembangan ilmu pengetahuan tidak pernah terlepas dari sejarah peradaban manusia. Ia selalu terkait berkelindan satu sama lainnya. Tidak terkecuali sejarah filsafat ilmu. Filsafat itu sendiri telah muncul sejak ribuan tahun yang lalu di mana akal manusia masih dihadapkan pada ruang dinamika pemikiran yang sederhana dan permasalahan yang tidak begitu komplek seperti saat ini. Sejarah ilmu pengetahuan mencatat bahwa perkembangan awal yang signifikan dalam ilmu pengetahuan dimulai sejak zaman Yunani Kuno (kurang lebih 600 SM). Di mana periode ini ditandai oleh pergeseran gugusan pemikiran (paradigm shift) dari hal-hal yang berbau mistis ke yang logis. Dari kepercayaan mistis yang irrasional terhadap fenomena alam menuju ke arah penjelasan logis yang berdasar pada rasio.

Persoalan sejarah ilmu pengetahuan tidak berhenti di situ saja, selanjutnya terjadi semacam saling tarik-menarik yang saling mendominasi antar berbagai ide pemikiran dalam memperjuangkan eksistensi ilmu pengetahuannya. Tujuan mulia ilmu yang beraras pada pencapaian kebenaran yang hakiki demi kepentingan kemaslahatan manusia itu sendiri menjadi semacam tonggak dasar dari munculnya perselisihan dinamika ilmu pengetahuan selanjutnya. Hal tersebut dapat dilihat dari fenomena pertentangan yang bahkan saling melemahkan dalam dunia filsafat Yunani kuno

Donwload artikel lengkap: Menyoal Netralitas Sain

Ditulis pada 13 Mei 2010 - kategori Karya Dosen - dengan 1 komentar - dibaca 55 kali

 

Tujuan Penciptaan Manusia Dalam Al Qur’an

Manusia menurut Nurcholish Madjid memang merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang mengagumkan dan penuh misteri. Dia tersusun dari perpaduan dua unsur ; segenggam tanah bumi, dan ruh Allah, maka siapa yang hanya mengenal aspek tanahnya dan melalaikan aspek tiupan ruh Allah, maka dia tidak akan mengenal lebih jauh hakikat manusia. Al-Qur’an sendiri juga menyatakan bahwa manusia memang merupakan makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh Allah. Ada banyak sekali kelebihan yang diberikan oleh Allah swt kepada manusia yang tidak diberikan kepada makhluk-makhlukNya yang lain. Ada beberapa ‘perangkat’ yang diberikan Allah swt. kepada manusia yang menjadikannya unggul dan terdepan dari para makhluk lainnya seperti; memiliki daya tubuh yang membuat fisiknya kuat; daya hidup yang membuatnya mampu mengembangkan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan serta mempertahankan diri menghadapi tantangan; daya akal yang membuatnya memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi; daya kalbu yang memungkinkannya bermoral, merasakan keindahan, kelezatan iman, dan kehadiran Allah.
Oleh karena itu, manusia perlu menyadari eksistensi dan tujuan penciptaan dirinya, memahami risalah hidupnya selaku pengemban amanah Allah, melalui arahan dan bimbingan yang berkesinambungan agar kehidupannya menjadi lebih berarti. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya segala sesuatu diciptakan dengan adanya satu tujuan. Dengan tujuan itulah kemudian sesuatu difungsikan dan
Download artikel lengkap: tujuan penciptaan manusia dalam al-quran

Ditulis pada 13 Mei 2010 - kategori Karya Dosen - dengan 0 komentar - dibaca 44 kali

 

ASPEK-ASPEK LEKSIKAL DALAM AL-QUR`AN: Shîghah, Binâ`, Wazn dan Isytiqâq

Mukaddimah

Kemampuan berbahasa yang baik ditandai, pertama-tama, dengan penguasaan kaidah-kaidah gramatikal dan aplikasinya. Untuk berbahasa Arab dengan baik, misalnya, seseorang harus selamanya mengikuti aturan-aturan yang dirumuskan dalam ilmu nahw dan sharf. Tetapi itu tidak cukup. Pada tahap yang lebih tinggi, seorang pengguna bahasa dituntut untuk tidak saja benar secara gramatikal, tetapi juga cermat dalam memilih kata dan ungkapan, mahir dalam mengolah frasa dan kalimat, serta sensitif dalam menggunakan gaya bahasa tertentu.

Dalam kajian bahasa Arab, dua tingkatan kemampuan berbahasa itu dikenal dengan al-mustawâ al-namthî (level tipikal) dan al-mustawâ al-fannî (level estetis). Yang pertama menunjuk pada tingkat berbahasa yang ”sekedar” benar secara gramatikal. Sementara yang kedua menunjuk pada tingkat berbahasa yang telah ”selesai” dengan persoalan-persoalan gramatikal dan berorientasi pada sesuatu yang lebih tinggi dari itu.
Dapatkan Artikel Penuh: Klik Disini

Ditulis pada 17 April 2010 - kategori Karya Dosen, Karya Ilmiah - dengan 0 komentar - dibaca 53 kali

 

Integrasi Al-Hadist dan Al-Qur’an

Hermanto Kholil, S.Pd.IPENDAHULUAN

Sumber ajaran Islam adalah asal atau tempat ajaran Islam itu diambil sebagai sumber mengindikasikan makna bahwa ajaran Islam berasal dari sesuatu yang dapat digali dan dipergunakan untuk kepentingan operasionalisasi ajaran Islam dan pengembangannya sesuai dengan kebutuhan dan tangtangan yang dihadapi ummat Islam. Setipa prilaku dan tindakan ummat Islam baik secara individu maupun kelompok harus dilakukan berdasarkan sumber tersebut. Oleh karena itu sumber ajaran Islam berfungsi sebagai dasar pokok ajaran Islam. Sebagai dasar, maka sumber itu menjadi landasan semua prilaku dan tindakan ummat Islam sekaligus sebagai referensi tempat orientasi dan komunitas dan tolak ukur.

Sebagian besar ummat Islam sepakat menetapkan sumber ajaran Islam itu adalah Al-qur’an, Al-Sunnah dan Ijtihad. Kesepakatan itu tidak semata didasarkan kemauan bersama tapi kepada dasar-dasar normatif yang berasal dari Al-qur’an dan Al-sunnah sendiri. Maka, sangat dianggap perlu untuk menjaga kesinambungan wahyu dan detail-detail fenomena sejarah Nabi, sebagai sumber ajaran agama kita (Islam).
Donwload Artikel Lengkap: Intergrasi Al-Qur’an dan Hadist

Ditulis pada 2 April 2010 - kategori Karya Alumni, Karya Dosen, Karya Ilmiah - dengan 0 komentar - dibaca 120 kali

 

Page 1 of 212»

 

© 2009 :: IDIA Prenduan powered by WordPress :: university theme by anwardani